Kerinduan Akan Allah (KGK 27-30)

Perjalanan Pulang Seorang Atheis



Namanya Leah Libresco.

Sebelum dunia mengenalnya sebagai penulis Katolik yang tajam, ia adalah seorang ateisme di dunia maya. Seorang blogger yang argumennya dipoles oleh logika murni dan skeptisisme. Ia tidak dibesarkan dalam kebencian terhadap agama; agama sama sekali bukan bagian dari dunianya. Tumbuh di Long Island, New York, dalam lingkungan sekuler, Tuhan bukanlah figur yang ia tolak, melainkan sebuah hipotesis yang tidak perlu dipertimbangkan. Baginya, alam semesta sudah cukup menjelaskan dirinya sendiri melalui fisika dan matematika. Titik.

Pandangannya sangat jelas: kepercayaan pada Tuhan itu tidak rasional. Sebuah peninggalan masa lalu yang digunakan orang untuk menjelaskan hal-hal yang belum bisa dipahami sains. Ia brilian. Tajam dalam berdebat. Blognya, "Unequally Yoked," menjadi salah satu pilar di komunitas ateis Patheos, sebuah platform besar untuk dialog keagamaan dan non-keagamaan. Di sana, ia mengasah logikanya setiap hari, membedah argumen teistik dengan presisi seorang ahli bedah. Ia tidak marah pada Tuhan; ia hanya tidak melihat ada alasan untuk percaya pada-Nya.

Namun, di tengah semua kepastian logis itu, sebuah pertanyaan kecil mulai mengganggunya. Pertanyaan tentang moralitas.

Perlahan tapi pasti, Leah sampai pada kesimpulan yang mengejutkan bagi dirinya sendiri: ada yang namanya kebenaran moral yang objektif. Ada "baik" dan "jahat" yang nyata, yang berlaku bahkan jika tidak ada seorang pun yang mempercayainya. Ini menjadi masalah besar bagi pandangan dunianya. Jika tidak ada Tuhan, dari mana datangnya hukum moral ini? Siapa atau apa yang menjadi dasar bagi "kebaikan"? Logikanya yang selama ini menjadi senjata andalannya, kini berbalik dan menodongkan sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Kegelisahannya bukan karena pengalaman mistis atau krisis emosional. Kegelisahannya bersifat intelektual. Murni.

Di saat yang sama, kehidupannya di Universitas Yale mempertemukannya dengan orang-orang yang berbeda. Ia bertemu dengan orang-orang Katolik. Bukan karikatur yang ia bayangkan, melainkan teman-teman yang cerdas, menyenangkan, dan hidupnya tampak... utuh. Mereka tidak hanya percaya; mereka hidup dalam sukacita yang bersumber dari iman mereka. Mereka bisa berdebat sengit dengannya tentang filsafat di sore hari, lalu pergi ke Misa dengan kedamaian di malam hari. Kontras ini membuatnya bingung. Dunianya yang hitam-putih mulai menunjukkan warna-warna lain.

Maka, dimulailah sebuah proyek raksasa. Dengan kejujuran intelektual yang sama yang membuatnya menjadi seorang ateis, Leah mulai "mencoba" Katolik. Ia tidak mencari perasaan hangat. Ia mencari kebenaran. Ia membaca tulisan para filsuf besar Gereja. Aquinas. Agustinus. Ia berdebat tanpa henti dengan teman-temannya, mencoba meruntuhkan bangunan argumen mereka. Ia ingin membuktikan bahwa Katolik itu salah, agar ia bisa kembali ke dunianya yang nyaman dan logis.

Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Setiap kali ia melemparkan sebuah keberatan, ia menemukan jawaban yang memuaskan secara filosofis. Setiap kali ia mencoba menunjukkan sebuah lubang dalam doktrin, ia malah menemukan kekayaan dan konsistensi yang tidak ia duga. Gereja Katolik, yang tadinya ia anggap sebagai kumpulan dongeng kuno, ternyata adalah sebuah katedral intelektual yang megah, dibangun selama dua ribu tahun oleh para pemikir terhebat dalam sejarah.

Puncaknya bukanlah momen tunggal yang dramatis. Melainkan sebuah kesimpulan yang tak terhindarkan. Logikanya sendiri telah membawanya ke depan pintu gereja. Ia menyadari bahwa jika ada hukum moral yang objektif, maka harus ada Sang Pemberi Hukum. Dan jika Sang Pemberi Hukum itu ada, maka Ia telah berkomunikasi dengan manusia. Dari semua "komunikasi" yang ada, ajaran Gereja Katoliklah yang paling koheren, paling konsisten secara historis, dan paling memuaskan secara filosofis.

Leah Libresco akhirnya menyerah. Bukan menyerah pada irasionalitas, tetapi menyerah pada kebenaran yang lebih besar dari dirinya. Hatinya yang gelisah karena logika yang tak menemukan dasar, akhirnya menemukan rumahnya dalam iman.  Pada tahun 2012, Leah dibaptis menjadi Katolik. Perjalanannya bukanlah lari dari akal budi, melainkan mengikuti akal budi sampai ke ujungnya, dan menemukan di sana, Seseorang telah menunggunya selama ini.

Sebagai seorang penulis, Leah telah menerbitkan beberapa buku yang merefleksikan pengalaman dan pemikirannya, seperti :

  • "Arriving at Amen: Seven Catholic Prayers That Even I Can Offer": Buku ini mengisahkan perjalanannya dalam belajar berdoa.

  • "Building the Benedict Option: A Guide to Building Thicker Christian Community": Sebuah panduan praktis untuk membangun komunitas Kristiani yang lebih erat dan tangguh.

  • "The Dignity of Dependence: A Feminist Manifesto": Buku terbarunya yang terbit pada tahun 2025, mengeksplorasi tema feminisme dari perspektif baru.

Saat ini, Leah Libresco Sargeant aktif sebagai seorang fellow di Word on Fire Institute yang didirikan oleh Uskup Robert Barron. Ia juga menulis di Substack dengan nama "Other Feminisms," di mana ia membahas berbagai isu yang berkaitan dengan perempuan dan masyarakat. Selain itu, tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media ternama seperti The New York Times dan The Washington Post. Ia terus menjadi suara penting dalam apologetika Katolik kontemporer, sering kali menjembatani kesenjangan antara dunia sekuler dan religius dengan pendekatan yang intelektual dan penuh empati.


Lihat : https://youtu.be/xUeLdEL--MA?si=mxe7SLRTBC9lbfYB

Komentar